NH

Minggu, 04 Agustus 2013

Perlengkapan dan Alat Stasiun KRAP


STASIUN KRAP
PERALATAN DAN PERLENGKAPANNYA


I.          STASIUN KRAP
Ruangan yang dibutuhkan untuk stasiun KRAP pada saat ini relatif tidak memerlukan tempat yang luas, hal tersebut disebabkan perangkat komunikasi radio produksi pabrikan semakin hari semakin kecil bentuk dan ukurannya. Dengan sebuah meja setengah biro, seorang anggota RAPI sudah dapat menyusun peralatan komunikasi radio dan perlengkapannya serta cukup  ruang untuk menuliskan data komunikasi pada Logbook.

            Sesuai dengan peraturan yang berlaku seorang anggota RAPI hanya diperbolehkan memiliki perangkat radio komunikasi yang alamatnya  sama dengan alamat pemilik IKRAP, maka penyelenggaraan stasiun KRAP tentu saja di rumah sesuai alamat yang tertera pada IKRAP.
            Untuk menentukan letak stasiun KRAP di dalam rumah, akan sangat tergantung dari situasi rumah, keadaan keluarga serta selera pribadi masing-masing anggota RAPI. Namun sekiranya perlu diingat bahwa penentuan letak hendaknya jangan terlalu egoistis, harus selalu diperhatikan kepentingan anggota keluarga yang lain, karena dukungan keluarga terhadap kegiatan anggota RAPI sangat diperlukan.
Secara relatif, penentuan letak stasiun KRAP akan sangat mudah apabila di dalam rumah hanya ada satu alternatif saja. Makin besar rumah dan makin banyak alternatif untuk meletakkan perangkat KRAP serta makin banyak anggaran yang tersedia untuk itu, maka pengambilan keputusan menjadi makin tidak mudah.
Beberapa anggota RAPI menyenangi letak stasiun KRAP di dalam kamar tidur sehingga tidak mengganggu anggota keluarga lain yang sedang menikmati siaran TV, sedang belajar atau sedang menemui tamu. Bila tengah malam propagasi bagus, dengan mudah dapat menggunakan perangkat komunikasi yang dimilikinya.
Sementara anggota RAPI yang lain menyenangi letak stasiun KRAP dekat dengan dapur agar mudah mengambil air minum atau dekat kamar mandi. Kesemua itu sangat tergantung kepada keadaan masing-masing anggota RAPI untuk mencapai kesesuaian operating yang optimal. Sudah barang tentu apabila tersedia sebuah kamar yang belum digunakan akan sangat cocok dimanfaatkan sebagai ruangan stasiun KRAP.
Cara mengatur letak peralatan agar sedemikian rupa sehingga memudahkan pemasangan dan pencabutan kembali kabel coaxial dan transceiver, memudahkan pemasangan dan pencabutan kembali kabel power supply dan jaringan listrik.
Hal tersebut sangat penting untuk tindakan keamanan dan antisipasi kemungkinan bahaya petir terutama pada musim penghujan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kerapian letak kabel-kabel penghubung untuk menghindari salah sambung yang dapat mengakibatkan kerugian besar. Pemberian tanda-tanda yang cukup jelas dimengerti dan mudah terbaca, baik untuk kabel-kabel coaxial maupun kabel-kabel penghubung lainnya. Setiap hubungan hendaknya menggunakan socket. Penggunaan berbagai jenis socket yang tepat dapat menghindarkan salah sambungan.
Grounding adalah suatu hal yang seringkali diabaikan, padahal fungsinya sangat penting, ground ini sangat penting untuk keamanan dari bahaya hubungan singkat di samping itu juga penting agar pancaran radio dapat lebih sempurna. Untuk itu letak stasiun KRAP makin baik bila makin mudah mencapai ground. Ground yang paling mudah dan cukup handal adalah dengan cara memasukkan kabel tembaga yang cukup besar ke dalam sumur.

II.         TRANSCEIVER
RIG
Pemilihan transceiver perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh, dapat menggunakan RIG atau Handy Transceiver ( HT ) tergantung daya pancar yang akan digunakan. Pemilihan transceiver  yang memiliki kestabilan osilator perlu juga mendapatkan perhatian agar pancaran tidak menimbulkan harmonik frekuensi yang berlebihan sehingga menimbulkan spletter dan masuk ke frekuensi lain yang mengakibatkan gangguan bagi sesama pengguna frekuensi.


Handy Transceiver ( HT )
 Bagi anggota RAPI yang menggunakan perangkat transceiver buatan pabrik, tersedia berbagai macam pilihan jenis serta merk. Untuk dapat melakukan pemilihan yang tepat, maka harus diperhatikan ketentuan-ketentuan yang berlaku, harus disesuaikan antara power, kelas emisi, maupun lebar frekuensi harus mematuhi ketentuan yang berlaku bagi peyelenggaraan  kegiatan KRAP.
Pada pembelian perangkat second hand perlu diperhatikan powernya, jangan sampai melebihi apa yang tercantum pada spesifikasi. Power sebuah transceiver buatan pabrik dapat diubah menjadi lebih besar dari spesifikasinya, akan tetapi ini akan memperpendek usia pakai dan dapat menimbulkan adanya gangguan-gangguan.
Perlu diperhatikan pula adanya fuse ( sekering ) pada kabel penghubung transceiver dengan power supply. Fuse ini terhubung dengan dioda pengaman yang terdapat di dalam radio transceiver, berguna agar apabila hubungan plus ( + ) dan minus ( - ) ke power supply terbalik, maka ia akan putus sehingga transceiver  terhindar dari resiko menjadi rusak.

III.       ANTENA DAN PEMASANGANNYA
Jenis antena yang paling sederhana adalah antena Dipole, cukup dengan membentangkan seutas kawat sepanjang setengah lambda diikatkan pada dua batang pohon. Jenis antena berikutnya adalah antena Ground Plane dan yang lain lagi adalah antena Yagi. Antena Yagi adalah antena yang dapat diarahkan menuju titik tujuan pada arah tertentu, antena ini memberikan kekuatan signal lebih besar dibanding dengan  antena Dipole. Namun yang sering digunakan untuk band frekuensi VHF adalah antena Telex Hi Gain.
Mengenai cara memasang antena perlu pula mendapat perhatian. Secara ekstrem dapat dikatakan bahwa memasang antena VHF dipuncak gunung akan dapat mencapai jangkauan yang sangat jauh dan meletakkan antena HF di dekat laut akan sangat menguntungkan. Namun dalam kebanyakan hal pemilihan tempat yang demikian tidak mungkin sehingga tempat memasang antena merupakan kompromi dari apa yang dimiliki.
Namun ada petunjuk yang dapat dijadikan patokan tentang posisi antena adalah sebagai berikut : Pertama posisikan pada ketinggian yang cukup agar mampu memberikan hasil  baik; Kedua posisikan jauh dari antena TV, jaringan listrik dan jaringan telepon, sekurang-kurangnya sejauh 5 meter; yang Ketiga hindarkan bentangan Dipole sejajar dengan kabel listrik maupun kabel telepon.
Antena mempunyai dua fungsi penting ialah mengubah getaran listrik yang dihasilkan oleh transmitter menjadi gelombang elektromagnetik yang kemudian memancar menuju ke sasaran, yaitu lawan bicara dalam berkomunikasi, Fungsi kedua adalah sebaliknya menerima pancaran gelombang elektromagnetik dari lawan bicara dan mengubahnya menjadi getaran listrik yang kemudian oleh receiver diolah sehingga menjadi informasi.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa antena mempunyai peranan yang sangat penting pada keseluruhan sistem komunikasi radio. Makin bagus antena makin jauh dapat memancarkan gelombang radio . Dengan antena yang tidak baik, maka sekalipun transceiver kita adalah yang tercanggih di dunia, tidak akan mampu berbuat banyak. Keberhasilan dalam penyelenggaraan komunikasi radio yang baik sangat tergantung dari sistem antena.
Antena dapat dibuat sendiri dengan amat mudah, jauh lebih mudah daripada membuat peralatan yang lain. Biayanya pun relatif sangat murah, padahal fungsinya amat menentukan. Antena dapat disempurnakan disainnya setiap waktu dengan tanpa membeli bahan yang baru.

IV.        SWR METER
SWR
SWR adalah singkatan dari Standing Wave Ratio yaitu perbandingan antara arus maksimum dengan arus minimum atau perbandingan antara voltage maksimum dengan voltage minimum. Sedangkan yang sudah dikenal oleh para anggota RAPI selama ini adalah SWR meter yang berisi SWR bridge berguna untuk mengukur besarnya Standing Wave Ratio dari suatu transmission line yang menghubungkan transceiver dan antena. Alat semacam ini dilengkapi dengan power meter dan field strength meter.
SWR merupakan alat yang sebaiknya dimiliki oleh anggota RAPI, alat ini dipasang di antara transceiver  dan kabel coaxial yang menuju ke antena. Field strength meter digunakan untuk mengukur kuat pancar transceiver dengan antena tertentu. Kuat pancar diukur pada jarak tertentu dan arah tertentu, selanjutnya dibandingkan dengan kuat pancar pada arah lain.
Indikator SWR meter sedapat mungkin menunjukkan angka serendah-rendahnya yaitu 1,1 ( satu koma satu ) atau antena match, apabila SWR meter menunjukan angka di atas 1,5 ( satu koma lima ) berarti antena mismatch. Dalam keadaan tidak match apabila dipaksakan digunakan untuk berkomunikasi terus menerus dan dalam jangka waktu lama transceiver akan panas yang akan mengakibatkan final rusak, tentunya suatu hal yang sangat tidak diinginkan bagi anggota RAPI .
Indikator SWR meter harus selalu dijaga pada angka paling rendah, supaya transceiver  menjadi awet dan dapat memancar pada range frekuensi yang lebar sehingga tidak memerlukan SWR tuner. Akan lebih baik lagi apabila SWR meter tetap terpasang sehingga apabila terjadi perubahan matching antena dapat segera diketahui dan segera dapat diantisipasi serta tidak berakibat rusaknya transceiver. Namun demikian perlu disadarai bahwa pemasangan SWR meter tersebut mengakibatkan sedikit losses sebagai harga yang harus dibayar untuk sebuah keamana transceiver .


V.         TOWER
1.   Tower Susun
Tower jenis ini terbuat dari rangka  besi beton atau pipa kecil disusun berbentuk prisma segi tiga atau segi empat. Agar tower ini dapat berdiri tegak maka diperlukan kawat baja penegang ( spanner ). Gunakan kawat untaian serabut baja, kawat tunggal akan lebih mudah putus dan juga sulit ditekuk.
Untuk menjaga agar kawat penegang tidak resonansi terhadap antena, maka kawat dibagi dalam beberapa bagian yang di antaranya diberikan isolator. Kabel penegang ditambatkan ke tanah dengan tiang pancang yang kokoh pada jarak 60 sampai 80 persen dari tinggi tower, diukur dari dasar tower.
Tower jenis ini banyak digunakan untuk pemasangan antena radio komunikasi baik untuk point to point atau pun repeater.
Kelebihan tower jenis ini antara lain adalah bahwa bongkar pasangnya relatif gampang, sehingga memberikan kemudahan untuk dipindah-pindahkan bila diperlukan. Tower susun relatif akan memerlukan tempat yang luas untuk menambatkan kabel penegang.
  1. Free Standing Fixed Tower
Tower jenis ini terbuat dari rangka  besi berbentuk huruf L disusun berbentuk piramid segi empat. Untuk tegak berdiri tower ini tidak  memerlukan   kawat          penegang ( spanner ) karena sudah ditopang oleh pondasi beton yang sangat kuat


VI.        POWER SUPPLY
Power supply berfungsi mengubah daya listrik yang berasal dari PLN yang berupa arus bolak-balik ( AC=Alternating Current ) menjadi arus searah ( DC=Direct Current ) sekaligus sebagai penyedia catu daya yang dibutuhkan oleh transceiver. Power supply dapat dibuat sendiri dengan mudah, hasilnya akan lebih handal dari pada membeli power supply dengan merk yang belum terkenal. Yang perlu diperhatikan pada power supply adalah jangan sampai terjadi voltage drop pada saat diberikan beban maksimum karena dapat mengakibatkan kerusakan pada transceiver.
Pembelian power supply untuk merk-merk yang belum terkenal, perlu diperhatikan komponen-komponennya, secara visual dapat diperhatikan besarnya trafo dan besarnya kondensator untuk dapat memperkirakan secara visual kemampuannya.
Setelah itu perlu ditest dengan pembebanan. Jangan percaya begitu saja pada tulisan yang tertera pada box power supply tersebut. Kelengkapan voltmeter dan amperemeter pada power supply adalah sangat penting agar dapat mengontrol setiap saat voltage dan ampere yang dihasilkannya demi keawetan transceiver.

VII.       KABEL COAXIAL
Kabel coaxial berfungsi menyalurkan getaran listrik yang dihasilkan oleh transceiver ke antena dan sebaliknya menyalurkan getaran listrik dari antena ke receiver. Untuk penyalur getaran listrik dari dan ke antena tersebut di atas, dapat digunakan berbagai macam kabel ialah kabel tunggal, twin lead ( seperti untuk TV hitam putih ), kabel paralel ( seperti tangga tali ) dan dapat pula menggunakan kabel coaxial.
Di pasaran terdapat berbagai macam merk dan berbagai macam ukuran besarnya. Besarnya kabel coaxial akan banyak berpengaruh pada losses, makin besar ukurannya, losses cenderung makin kecil. Di samping ukuran besarnya, maka kabel coaxial mempunyai ukuran yang penting ialah impedansi. Biasanya transceiver mempunyai impedansi 50 ohm. Apabila kabel coaxial terlampau panjang, untuk merapikannya jangan digulung sehingga merupakan lingkaran, karena hal ini akan dapat mempengaruhi impedansinya,

VIII.     KESIAPAN TEKNIS STASIUN
Sebelum melakukan kegiatan KRAP disarankan agar mengecek segala sesuatu yang berkaitan dengan perangkat KRAP dan perlengkapan pendukungnya, di antaranya:
      1.   Konektor antena, apakah sudah terhubung ke transceiver dengan baik.
2.  Power suply, yang diperoleh dari accu atau listrik PLN apakah sudah terpasang    dengan baik.
Sebelum mulai melakukan komunikasi radio perangkat komunikasi harus diatur , sehingga :
1.   Tidak mengeluarkan daya melebihi  daya maksimum yang diizinkan untuk tiap-tiap perangkat.
2.     Tidak mengeluarkan interferensi/spletter yang merugikan yang dapat mengganggu stasiun  radio dan peralatan lain.
3.         Lebar band dan pancarannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

IX.        DOKUMEN KELENGKAPAN STASIUN
            Sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, maka setiap stasiun KRAP harus dilengkapi :
   a.  Foto Copy IKRAP
   b.  IPPKRAP Asli
   c.  Papan Nama
   d.  Buku Pedoman Komunikasi
   e.  Buku Peraturan dan Ketentuan tentang KRAP.
            f.  Logbook ( Lampiran 6 ) Persyaratan Logbook adalah sebagai berikut :
      1.    Berisi data-data percakapan yang terdiri  atas :
    a.  Hari, tanggal, bulan dan tahun.
    b.  Jam berkomunikasi.
    c.  Nama Panggilan dan posisi stasiun lawan bicara.
    d.  Band frekuensi.
      2.    Logbook harus mempunyai halaman urut.
                       3.    Setelah Logbook penuh, harus disimpan agar bila dibutuhkan mudah mencarinya.
Perlengkapan lain dari penyelenggara KRAP dapat berupa :
a.  Jam dan kalender, diperlukan untuk setiap penyelenggara KRAP guna mengisi logbook dan logsheet. Penggunaan jam dengan display angka sampai 24 akan lebih memudahkan operasi.
b.  Peta, penting untuk menentukan arah antena, agar dapat mengetahui letak dan jarak stasiun lawan bicara  yang bersangkutan sehingga arah antena tepat sasaran.
d.  Tabel alokasi frekuensi, berguna untuk mengetahui posisi stasiun yang sedang berkomunikasi.
e.   Kebiasaan mengisi Logbook, merupakan hal yang sangat menguntungkan, karena komunikasi yang telah dilakukan selalu tercatat, bila sewaktu-waktu dibutuhkan tinggal mencarinya dengan mudah.

X.         PERALATAN PELENGKAP
1.   AVO METER
Alat ini berfungsi sebagai alat ukur Ampere, Voltage baik AC maupun DC serta mengukur besarnya tahanan sehingga bila pada suatu saat terdapat gangguan pada transceiver dapat segera diperiksa sebab-sebabnya sehingga dapat diambil tindakan yang tepat.
2.   TOOLKIT
Tersedianya toolkit pada stasiun KRAP memungkinkan diatasinya gangguan-gangguian kecil secara baik. Penggunaan alat yang tidak tepat akan dapat merusakkan transmitter dan perelengkapan perangkat lainnya.
3.   SOLDER DAN PATRI
Tersedianya solder dan patri pada stasiun KRAP akan sangat bermanfaat, untuk memungkinkan gangguan pada sambungan-sambungan dapat segera teratasi. Timah patri atau biasa disebut tenol untuk ini biasanya digunakan yang angkanya 60/40.


                                                                        --oOo--

5 komentar: