NH

Minggu, 28 Agustus 2016

Apa itu BEP?

Apa Itu Break Even Point (BEP) : Titik Impas atau Balik Modal?

Apa itu Break Even Point (BEP)
BEP (Break Even Point) adalah titik dimana pendapatan dari usaha sama dengan modal yang dikeluarkan, tidak terjadi kerugian atau keuntungan. Break Even Point menjadi ukuran yang penting dalam bisnis. Namun seringkali pengusaha mengartikan BEP dengan balik modal. Titik impas dan balik modal adalah dua hal yang sangat berbeda.


Balik Modal
Saat anda membuka sebuah usaha, anda tentunya menyediakan modal untuk sewa tempat, membeli peralatan, atau kebutuhan lainnya. Yang dimaksud dengan balik modal ialah profit yang didapatkan dari usaha, seluruh modal yang sudah dikeluarkan akhirnya bisa kembali. Dalam istilah keuangan ini disebut dengan ROI (Return on Investment).
Berbeda dengan ROI, saat anda menjalankan usaha, pastinya akan mengeluarkan biaya operasional. Ada dua jenis biaya operasional: biaya tetap dan biaya tidak tetap (variabel). Biaya tidak tetap adalah penghitungan biaya yang berdasarkan dari penjualan usaha.  Sebagai contoh, dalam menjalankan usaha ini anda harus menyewa tempat dengan biaya sewa Rp. 400.000/bulan. Maka meskipun tidak ada penjualan produk yang anda tawarkan, anda tetap harus membayar biaya sewa tempat ini. Jadi, meskipun usaha anda sepi dan tidak ada pemasukan, tetap ada biaya yang harus dikeluarkan.
Namun, saat terjadi proses penjualan, ada biaya lain yang ditimbulkan. Misalnya anda harus mengirim pesanan pelanggan atau harus mengganti barang pesanan. Biaya yang dikeluarkan ini adalah biaya tidak tetap. Semakin banyak penjualan, maka biayanya juga meningkat. Dalam proses bisnis ini, yang dimaksud dengan biaya operasional adalah biaya tetap ditambah dengan biaya variabel.
Untuk memberi gambaran penjelasan diatas, berikut adalah ilustrasi penghitungan Break Even Point (BEP) usaha mie ayam:
Biaya tidak tetap (misal: bayar listrik, pegawai, sewa tempat)  Rp. 100.000/hari. Biaya ini harus anda keluarkan sekalipun tidak ada penjualan.  Jika ada penjualan, untuk tiap porsi terjual biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 5.000 untuk beli mie, ayam, bumbu dll. Misalnya, terjual 10 porsi, maka biaya variabel yang dikeluarkan adalah Rp 50.000. Jadi total biaya adalah 150.000. Dari setiap porsi yang terjual, anda mendapatkan Rp 10.000,  maka kalau menjual 10 porsi, biayanya adalah Rp 150.000 dengan pendapatan Rp 100.000. Perhitungan ini menunjukkan kalau bisnis anda belum impas. Untuk mencapai titik impas, biaya harus sama dengan pendapatan. Berapa titik impasnya? Berikut ini rumus penghitungannya:
Biaya tetap (A), biaya operasional (B), dan harga jual produk (C), maka rumusnya:
A + (B x n) = C x n
Dari contoh diatas:
Rp 100.000,- + (5000 x n) = 10000 x n
100000 = (10000 x n) – (5000 x n)
100000 = 5000 x n
n = 100000 / 5000
maka n = 20.

Titik Impas
Titik impas anda ialah jika anda dapat menjual 20 porsi, maka Anda akan mendapatkan penghasilan Rp 200.000 dan biaya (tetap + variabel) Rp 100.000 ditambah Rp 100.000 (dari Rp 5000 x 20), maka total biayanya adalah Rp 200.000.
Ini adalah impas anda dimana anda tidak untung dan tidak rugi. Jika anda berhasil menjual lebih dari 30 porsi, maka barulah anda mendapatkan untung.
Inilah mengapa pelaku usaha perlu mengetahui Break Even Point (BEP) agar bisa memasang target minimal penjualan harian atau bulanan. Anda bebas menentukannya, yang terpenting anda harus tahu berapa banyak penjualan yang harus dicapai untuk berada pada posisi titik impas. Sehingga Anda bisa menentukan bisnis anda untung atau rugi
Break Even Point sama dengan Titik Impas tapi tidak sama dengan Balik Modal
Anggapan yang selama ini ada bahwa BEP adalah balik modal, perlu diluruskan.
Jadi, yang dimaksud dengan BEP atau titik impas adalah pendapatan usaha sama dengan modal yang dikeluarkan, tidak rugi dan juga tidak untung.
Sedangkan yang dimaksud dengan balik modal adalah keuntungan yang dihasilkan dari pemasukan usaha, seluruh modal yang telah dikeluarkan (misal untuk sewa tempat, renovasi, membeli perlengkapan dsb) bisa kembali. Yang dalam istilah keuangan disebut dengan Return on Investment.
Semoga dengan memahami perbedaan tersebut, kita tidak salah kaprah dalam menggunakan istilah Break Even Point (BEP).

Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar